Jakarta, Oke Informasi – Keputusan operator selular menggelar 5G dengan menggunakan spektrum eksisting, tak lepas dari langkah pemerintah yang hingga saat ini belum menentukan frekuensi khusus yang dialokasikan untuk jaringan 5G.

Ridwan Effendi, Sekjen Pusat Kajian Kebijakan & Regulasi Telekomunikasi ITB dalam gelaran webinar Indonesia 5G Conference, sesi III yang mengangkat tema ‘Ketersediaan Spektrum 5G Sebagai Upaya Memaksimalkan Layanan 5G’ menilai sesungguhnya ketersediaan pita potensial untuk 5G cukup banyak tersedia dan dapat dimanfaatkan.

Ada di 700 MHz yang saat ini berada tahap Analog Switch Off (ASO), berdasarkan amanat UU Cipta Kerja harus beralih dari siaran analog ke digital pada November 2022. Migrasi merupakan upaya mengalokasikan digital dividen untuk kebutuhan mobile broadband sebesar 2 x 45 MHz, dengan potensi bandwidth yang diberikan mencapai 90 Mhz.

“lalu juga ada di 2600 MHz, frekuensi in masih menunggu lisensi dari operator TV satelit berakhir, dan memiliki potensi bandwidth sebesar 190 MHz, lalu di dalam International Telecommunication Union (ITU) sampai 2024 pemanfaatan frekuensi ini masih diizinkan, dan kemudian selanjutnya akan dimanfaatkan untuk layanan seluler,” papar Ridwan.

Kemudian ada frekuensi potensial 3300 MHz yang bakal digunakan melalui alih fungsi Broadband Wireless Access (BWA), “frekuensi 3300 MHz untuk BWA itu tidak efektif layananya. Di negara tetangga frekuensi ini dimanfaatkan untuk layanan radar pertahanan dan cuaca. Ahli fungsi BWA pada 3300 MHz – 3400 MHz untuk mobile broadband itu bisa menghasilkan potensi bandwidth hingga 100 MHz.

Selanjutnya yang tidak kalah potensial ada di 3400 MHz-3600 MHz ini tentunya saat ini masih digunakan satelit, Ridwan dalam hal ini menilai untuk mendapatkan frekuensi tersebut perlu dihitung nilai bisnisnya kedepan dari layanan tersebut, untuk kemudian diambil frekuensinya sebagai kebutuhan layanan seluler.

Baca Juga  Render Samsung Galaxy A33 5G Ungkap Desain dan Spesifikasi – Oke Informasi

“Tentu ini kan juga sebagai kompensasi para pemain satelit karena akan dilakukan cut off lebih awal, jadi hemat saya harus win-win solution. Frekuensi ini mainstream, Indonesia bisa melakukan hal tersebut dan melakukan relokasi demi kepentingan 5G,” tuturnya.

Selanjutnya di frekuensi 4400 MHz masih di gunakan oleh satelit non-geostationary satellite orbit (NGSO) dan wireless backhaul, potensi bandwidth yang dapat diperoleh sebesar 100 MHz. Sementara untuk frekuensi 40000 pun masih digunakan untuk kepentingan microwave link tepatnnya di pita 37000 MHz – 39500 MHz, dan preferensi industri pada pita 37000 MHz-43500 Mhz untuk keperluan 5G.

Dalam pemaparanya Ridwan mencatat dari potensi ketersediaan pita untuk mobile broadband, potensi bandwidth yang dihasilkan mencapai 6.561 MHz, mulai dari pemanfaatan pita 700 Mhz, 1400 MHz, 2000 Mhz hingga 40000 MHz. Sedangkan total mobil broadband eksisting jika di kalkulasikan baru menyentuh angka 437 MHz.

“Melalui membandingkan potensi spektrum yang dapat diperoleh untuk keperluan mobile broadband dengan hasil perhitungan kebutuhan spektrum, dapat disimpulkan bahwa potensi spektrum yang dapat diperoleh, dapat memenuhi kebutuhan spektrum mobile broadband hingga 5 tahun mendatang. Kalau pun ada operator nanti tidak kebagian lelang frekuensi tersebut, tidak masalah juga bisa dilakukan melalui kerjasama frekuensi,” tuturnya.

Sebagai catatan, sejak Maret 2021, tercatat sebanyak 157 operator telekomunikasi seluler telah meluncurkan operasi komersial layanan 5G di 62 negara termasuk 10 diantaranya berada di kawasan Asia Pasifik.

Di kawasan ASEAN, komersialisasi 5G telah berlangsung di Singapura, Thailand, dan Filipina, dengan tingkat konektivitas 5G berkisar antara 0,07 hingga 2,28 persen dari total koneksi.

Sementara di Indonesia sendiri baru tiga operator yang telah menerima Surat Keterangan Laik Operasi (SKLO), mereka adalah Telkomsel yang saat ini mengoperasikan 30MHz di pita 2.300 MHz atau 2,3 Ghz, lalu digelar Indosat Ooredoo secara teknis mengoprasikan pada pita frekuensi 1800 MHz atau 1,8 GHz, dengan lebar pita 20 MHz, dan kemudian XL Axiata tak ubahnya Indosat Ooredoo, mereka memanfaatkan pita frekuensi 1.800MHz dengan lebar pita 20MHz.

Baca Juga  Acer Perluas Lini Produk Vero yang Ramah Lingkungan

By Salman Pangestu

Atau biasa dipanggil Salman. Sebuah nama yang menjadi terciptanya blog sederhana ini. Semoga apa yang saya share dan posting diblog ini bisa membawa manfaat bagi para pembaca. dan juga semoga betah berlama-lama di blog ini ya ^_^